Sepatu Bot Astronot Pada Masa Depan Dapat Mendeteksi Bahaya di Luar Angkasa

Baca Berita terkini di bawahlaci.com, Kami menyediakan banyak artikel artikel menghibur, serta tips dan trik yang dapat anda coba, menambah pengetahuan anda di berbagai bidang termasuk teknologi.

Beragam teknologi dirancang para ilmuwan untuk mengekspolrasi dunia luar angkasa. Untuk lebih meningkatkan sensitivitas para astronot, sebuah sepatu boot tengah dikembangkan oleh laboratorium Draper yang akan memungkinkan astronot merasakan tanah yang diinjaknya.

Bot itu dilengkapi dengan sensor dan motor feedback yang menghasilkan respon tactile berdasarkan pada apa yang mereka deteksi.

Orang-orang kemungkinan belum pernah memakai sepatu antariksa di masa lalu, namun sepatu bot ini memiliki bobot yang amat mirip dengan bobot sepatu bot standar, meski mungkin lebih berat atau lebih tebal dari bot yang banyak digunakan orang.

Sepatu bot yang digunakan kebanyakan orang sendiri tidak dapat merasakan detail tanah yang mereka injak. Inilah yang menjadi fokus para ilmuwan dalam menegmbangkan bot untuk para astronot.

Saat astronot berkeliaran di sekitar permukaan Mars, mereka dilengkapi setelan pelindung yang berat sehingga sulit untuk merasakan lingkungan di sana yang tak bersahabat. Helm turut menjadi tantangan terbesar untuk penglihatan secara keseluruhan lingkungan sekitar, dan setelan yang digunakan astronot tersebut menumpulkan pengalaman sensorik sentuhan mereka.

Penelitian Draper menghasilkan sebuah desain bot baru yang dibuat oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Draper Fellow serta Alison Gibson – mantan mahasiswa pascasarjana MIT. Mereka menggabungkan sensor dan motor vibration ke dalam sepatu bot yang pada dasarnya melewati sensasi dengan cara yang bekerja dalam batasan EVA.

Sensor itu tak hanya melewati feedback haptic ke “sepatu bot vibrotactile”, namun juga pada dasarnya melihat dunia di sekitar mereka, menggunakan built-in ultrasonic range-finder, serta detektor kedekatan.

Tak hanya itu, proyek ini juga menggabungkan informasi untuk menghasilkan tampilan augmented reality (AR), yang dapat disematkan pada helm pelindung astronot, memungkinkan astronot waspada terhadap potensi penghalang atau bahaya perjalanan bahkan jika mereka tidak dapat benar-benar melihatnya.

Draper membayangkan aplikasi potensial lainnya dari teknologi ini di Bumi, juga bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan, dan untuk responden pertama termasuk petugas pemadam kebakaran.

Sistem ini memiliki kesamaan dengan yang dikembangkan oleh mahasiswa pascasarjana MIT dan telah muncul dalam sebuah prototipe bulan Maret lalu. Namun proyek yang dikembangan Gibson dinilai lebih memberikan sensivitas rasa bagi para astronot. Demikian seperti dilansir TechCrunch, Minggu (24/9/2017).

Source : okezone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here