Kinerja Garuda Indonesia Dinilai Sudah Membaik

Baca Berita terkini di bawahlaci.com, Kami menyediakan banyak artikel artikel menghibur, serta tips dan trik yang dapat anda coba, menambah pengetahuan anda di berbagai bidang termasuk teknologi.

Kinerja Garuda Indonesia semakin membaik. Untuk bulan Juli 2017 ini saja Garuda telah membukukan kinerja positif sebesar US$ 31 juta.

Melalui langkah inisiatif yang mencakup aspek optimalisasi armada, perbaikan tingkat layanan, optimalisasi rute, peningkatan layanan digital, dan peningkatan sistem manajemen pendapatan tersebut, Garuda Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan positif.

Demikian dikatakan Senior Manager Public Relations PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ikhsan Rosan, dalam keterangan tertulisnya kepada SP Jumat (1/9).

Ia mengatakan, Garuda Indonesia berhasil mencatatkan operating revenue semester 1 tahun 2017 sebesar US$ 1,9 miliar dengan pertumbuhan sebesar 7% dibandingkan periode yang sama di tahun 2016.

Di tengah tren penurunan kinerja operasional industri penerbangan global, kata dia, Garuda Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan positif kinerja operasional, khususnya pada kinerja kuartal 2 tahun 2017 yang menunjukkan peningkatan operating revenue sebesar 7,7 persen dibandingkan kuartal 1 tahun 2017.

Ia mengatakan, sejalan dengan strategi transformasi finansial berkelanjutan yang dilakukan perusahaan, Garuda Indonesia berhasil menekan net loss pada kuartal 2 tahun 2017 dengan nilai net loss sebesar US$ 38 juta, turun cukup signifikan hingga 62% dibandingkan dengan net loss kuartal 1 tahun 2017 sebesar US$ 99,1 juta.

Dikatakan, pendapatan internasional pada kuartal 2 tahun 2017 yang meningkat 16 persen dengan jumlah penumpang internasional yang juga meningkat 14,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada semester 1 tahun 2017 ini Garuda Indonesia Group mencatatkan jumlah passenger carried sebanyak 17,2 juta atau meningkat sebesar 3,9 persen, sedangkan khusus passenger carried rute internasional tercatat tumbuh sebesar 15 persen. Sementara itu, kargo yang diangkut (cargo carried) juga meningkat sebesar 10,6 persen menjadi 219.000 ton.

Pada semester 1 tahun 2017 cargo revenue juga meningkat 12,3 persen menjadi US$ 115,6 juta dan ancillary revenue mencapai US$ 36,3 juta tumbuh 20,6%. Sementara itu, Garuda Indonesia juga berhasil mempertahankan kinerja On Time Performance (OTP) mencapai 85%.

Tingkat keterisian penumpang (SLF) pada semester 1 tahun 2017 tercatat sebesar 73,3 % secara keseluruhan, meningkat dari semester 1 tahun 2016 sebesar 70,8% (sedangkan SLF internasional saja di semester 1 tahun 2017 mencapai 74,7 persen).

Indikator lain yang meningkat antara lain aircraft utilization meningkat menjadi 9,32 jam pada kuartal 2 tahun 2017 dibanding kuartal 1 tahun 2017 yang sebesar 9,19 jam. Adapun market share Garuda Indonesia pada market internasional sebesar 28% dan market domestic sebesar 39,5%.

“Sejalan dengan pertumbuhan bisnis Garuda dan operating revenue yang meningkat, perusahaan masih terbebani harga bahan bakar yang meningkat sebesar 36,5% dibandingkan periode yang sama di tahun 2016, sehingga berdampak pada catatan total net loss pada semester 1 tahun 2017 sebesar US$ 138 juta di luar non-recurring expense sebesar US$ 145,8 juta. Adapun net loss secara keseluruhan di semester 1 tahun 2017 sebesar US$ 283,8 juta.

Melalui pertumbuhan pendapatan perusahaan tersebut, Garuda Indonesia sebagai mainbrand juga berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,6% dengan beban biaya perusahaan yang berhasil ditekan peningkatannya menjadi 0,4% di kuartal 2 tahun 2017.

source : beritasatu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here