Kebiasaan Merokok Pengaruhi Kualitas Gizi Rumah Tangga di Indonesia

Baca Berita terkini di bawahlaci.com, Kami menyediakan banyak artikel artikel menghibur, serta tips dan trik yang dapat anda coba, menambah pengetahuan anda di berbagai bidang termasuk teknologi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Abdillah Ahsan, mengatakan, kebiasaan merokok telah mempengaruhi kualitas gizi rumah tangga di Indonesia.

“Masalah gizi terkait lintas sektor, penyebab tidak langsung kurang gizi di Indonesia adalah salah satunya persediaan pangan terutama pada daya beli ekonomi keluaga pembeli rokok,” kata Abdillah, dalam workshop “Mendorong Pelarangan Iklan, Promosi, Sponsor Rokok untuk Melindungi Anak Indonesia” di Bogor, Minggu (20/8).

Menurut Abdillah, Indonesia saat ini darurat gizi, terjadi masalah gizi kurang (kurang energi protein, anemia, kurang vitamin A, dan gangguan akibat kurang yodium) dan masalah gizi lebih (overweight dan obesitas).

Selain itu, Indonesia juga menghadapi permasalahan kesehatan yakni penyakit menular (TBC,ISPA, penyakit infeksi lainnya), dan penyakit tidak menular (hipertensi, DM, stroke, dan PJK).

“Di negara maju sudah tidak ada lagi masalah gizi kurang, yang ada kelebihan gizi, dan tren lainnya penyakit menular berkurang, penyakit tidak menular meningkat,” katanya.

Posisi masalah gizi di Indonesia cukup komplek, lanjutnya, memenuhi semua kategori yakni kategori A (kurus/pendek), kategori B (kurang vitamin A, dan zat besi) dan kategori c (overweight atau kelebihan berat badan).

Hasil studi dari tahun 2007 sampai 2013 menunjukkan, masalah gizi pada balita terus meningkat. Seperti gizi buruk tahun 2007 sebesar 5,4 pada tahun 2013 naik menjadi 5.7. Prevalensi balita dan wanita dengan gizi kurang juga meningkat, ada 37,2 persen balita pendek, dan 37,1 persen wanita hamil dengan anemia di tahun 2013.

“Indonesia salah satu dari 17 negara yang memiliki permasalahan kesehatan masyarakat, adanya stunting, dan kelebihan berat badan,” katanya.

Abdillah mengaitkan persoalan gizi dengan daya beli masyarakat terhadap persediaan pangan. Kebiasaan merokok 12 batang per hari, jika disederhanakan dengan belanja telur, nominal tersebut dapat membeli kurang lebih setengah kilogram telur.

Berdasarkan data BPS dari 258 juta penduduk Indonesia, jumlah penduduk miskin sekitar 27,76 juta jiwa atau 10,70 persen. Rokok kretek filter salah satu komoditi yang memberikan pengaruh besar terhadap garis kemiskinan yakni sebesar 8,08 persen di perkotaan, dan 7,68 persen di kawasan perdesaan. Rokok menempati posisinya nomor kedua setelah beras.

“Tahun 2016 rokok memberikan sumbangan kedua terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan sebesar setelah beras 18,31 persen, yaitu sebesar 10,70 persen,” katanya.

Sedangkan di perdesaan, rokok memberikan sumbangan kedua terbesar terhadap garis kemiskinan setelah beras 25,35 persen yaitu sebesar 10,70 persen.

Menurut dia, uang untuk merokok yang digunakan masyarakat miskin tidak dapat untuk memenuhi gizi ibu hamil. “Beban untuk rokok di kalangan rumah tangga miskin cukup parah,” katanya.

Fakta lainnya, hampir 80 persen orang miskin merokok di rumah tangga. Kebiasaan merokok tidak hanya membuat anggaran untuk gizi anak dan ibu hamil berkurang. Kebiasaan merokok di rumah, berdampak asapnya mengganggu rumah tangga lainnya.

“Sudah alokasi untuk belanja rumah tangga berkurang, dipengaruhi pula asap rokok,” kata Abdillah.

source : beritasatu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.