Orkes dan Dangdut di Panggung Synchronize Fest

0
448
synchronize fest

Baca Berita terkini di bawahlaci.com, Kami menyediakan banyak artikel artikel menghibur, serta tips dan trik yang dapat anda coba, menambah pengetahuan anda di berbagai bidang termasuk teknologi.

Lima panggung di pergelaran Synchronize Fest yang berlangsung di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, dua hari ini sukses menghadirkan puluhan musisi dan penyanyi yang menyuguhkan atmosfer kemeriahan musik lintas arus, lintas dekade, hingga lintas komunitas.

Hari kedua festival yang berlangsung hingga Minggu (30/10/2016) dipuncaki penampilan Orkes Moral Pengantar Minum Racun dan Soneta Grup yang dimotori Raja Dangdut, Rhoma Irama.

Kemarin, Sabtu malam, yang telah panas oleh penampilan band-band, seperti Monkey To Millionaire, Bonita & The Husband, Dead Vertical, Mata Jiwa, dan Kunto Aji dan The Brandals, menjadi hangat oleh penampilan White Shoes & The Couples Company (WSATCC).

Band ini diawaki oleh Aprillia Apsari (vokal), Rio Farabi (gitar akustik), Saleh Husein (gitar elektrik), Ricky Surya Virgana (kontra bass, cello, bass), Aprimela Prawidyanti (piano, kibor), dan John Navid (drum).

WSATCC tampil di panggung District yang semi-tertutup, mengusung lagu-lagu manisnya yang membuai di malam syahdu karena guyuran hujan.

Itu pula mungkin yang membuat penonton berjejal menyaksikan penampilan WSATCC.

Lagu-lagu seperti “Senja Menggila” dengan iringan permainan cello Sisi, musisi tamu, membuat malam semakin hangat.

Di sesi yang sedikit up beat, WSATCC menyuguhkan “Masa Remadja” yang memanaskan suasana.

Setelah WSATCC, malam kembali panas dengan penampilan Orkes Moral (OM) Pengantar Minum Racun (PMR) yang tampil di panggung Lake membawakan kurang lebih 10 lagu.

Salah satunya hasil otak-atik lagu milik Kunto Aji, “Terlalu Lama Sendiri”, menjadi “Too Long To Be Alone”.

Kocak sudah pasti. Di atas panggung, mereka membawakan “Too Long To Be Alone” berkolaborasi dengan Kunto.

Lagu tersebut, menurut gitaris OM PMR, Budi Padukone, akan jadi salah satu lagu di album PMR yang direncanakan dirilis Desember nanti. Album bertajuk Penawar Racun tersebut berisi lima lagu, termasuk “Too Long To Be Alone”.

Selain kolaborasi bersama Kunto yang sukses mendulang tawa penonton, OM PMR juga berkolaborasi dengan The Flowers. Bersama The Flowers, OM PMR membawakan “Rajawali”.

Suasana saat OM PMR tampil di panggung sungguh hidup. OM PMR digawangi Jhonny Madu “Matikutu” alias Jhonny Iskandar (vokal, suling, dan horamonisir), Adjie Cetti Bahadur Syah (tamborin, perkusi), Yuri Mahippal (mandolin, cuk), Harry Muka Kaphour (gendang), Budi Padukone (gitar), dan Imma Maranaan (bas).

Para penonton yang didominasi anak-anak muda itu tak sungkan ikut bernyanyi dan bergoyang.

Kehadiran OM PMR di Synchronize Fest menjadi bukti musik mereka disukai dan bisa masuk ke segala lini. Meski Synchronize Fest juga menyajikan musik beraliran seperti punk dan rock, OM PMR bisa diterima dengan musik orkes mereka.

“Beda dengan yang lain, tetapi malah digemari. PMR membuktikan musik itu asyik,” ujar Manager OM PMR, Uga Tatoo.

Penampilan seru OM PMR pada Sabtu malam dipuncaki oleh Soneta Grup. Beda tipis dengan OM PMR, Soneta yang dimotori Rhoma Irama ini menggoyang panggung Dynamic dengan lagu-lagu dangdut yang disambut hangat para penonton muda.

Dangdut, tanpa goyang seksi dan pakaian terbuka, nyatanya justru makin sedap untuk dinikmati.

Pesta malam pertama
Selain kedua dedengkot itu, selama dua hari Synchronize Fest dimeriahkan oleh band-band dan penyanyi yang notabene selama ini berada di jalur indie.

Di hari pertama, misalnya, ada Besok Bubar, Sunyotok, Gangstarasta, Kunokini & Svaraliane, Kelompok Penerbang Roket, DDHear (Dialog Dini Hari + Endah N Rhesa), Pure Saturday, Payung Teduh, dan Sheila on 7.

Penampilan DDHear di Synchronize Fest, menurut Endah, kemungkinan besar akan jadi penampilan terakhir mereka di Jakarta.

Tahun ini, kolaborasi kedua band dipastikan berakhir. Di panggung terakhir DDHear itu, mereka membawakan “Pohon Tua Bersandar”, “No Tears From My Eyes”, “Tentang Rumahku”, “When You Love Someone”, dan “Liburan Indie”.

Lewat tengah malam, Band death metal Ibu Kota, DeadSquad, berbagi panggung dengan khalayak pop Sheila on 7.

DeadSquad yang bersiap melepas album ketiganya, Tyranation, menuntaskan set mereka sekitar pukul 00.40.

Tak banyak penonton yang menyimak aksi rancak dan bertenaga DeadSquad. Penonton lebih ramai melihat penampilan Sheila on 7 yang main di panggung Dynamic.

Durasi tampil band pop asal Yogyakarta itu lebih lama, hingga pukul 1.00. Hampir tak ada penonton DeadSquad yang singgah di panggung Sheila on 7.

Selain DeadSquad, sebelumnya ada band Jasad dari Bandung yang beraksi sekitar pukul 19.00.

Jasad, melalui vokalis Man, menyampaikan pesan damai bagi Pilkada DKI. Bisa jadi itu adalah satu-satunya pernyataan politis di festival yang berbarengan dengan masa kampanye ini.

Penonton makin ramai kala hujan benar-benar sirna, tetapi tetap menyisakan kesan lengang di arena yang cukup luas.

Aksi trio rock antik Kelompok Penerbang Roket (KPR) yang sedang meroket mungkin hanya disimak sekitar 200 orang. Tak satu pun penonton yang moshing seperti biasanya di setiap pentas KPR.

Hari Minggu ini, sejumlah penampil masih akan menggebrak panggung Synchronize Fest. Mari pesta pora.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Oktober 2016, di halaman 24 dengan judulOrkes dan Dangdut di Panggung Synchronize Fest“.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.