cerita-siswa-perbatasan-ikut-pertukaran-pelajar-ke-jakarta-RkeW8cJmdO

Baca Berita terkini di bawahlaci.com, Kami menyediakan banyak artikel artikel menghibur, serta tips dan trik yang dapat anda coba, menambah pengetahuan anda di berbagai bidang termasuk teknologi.

Dismas Blido bahagia bukan main ketika mendapatkan kesempatan terbang ke Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Bagaimana tidak, sehari-hari dia tinggal di wilayah perbatasan Nusantara. Tak heran, warga Desa Sungai Limau, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara itu lebih dekat pergi ke Malaysia ketimbang ke wilayah NKRI lainnya.

Melalui program pertukaran pelajar SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali), siswa kelas VIII di SMPN 1 Sebatik Tengah ini selama tiga minggu tinggal bersama sebuah keluarga asuh di Jakarta. Dismas mengungkapkan, tak akan pernah melupakan jauhnya perjalanan dari desanya sampai akhirnya menginjakkan kaki ke Bandara Soekarno-Hatta.

“Perasaan saya pertama kali itu heran. Makin heran begitu lihat gedung-gedung tinggi. Di tempat saya tidak ada bangunan-bangunan seperti itu,” ujarnya kepada Okezone di FX Sudirman, Jakarta, belum lama ini.

Selama di Jakarta, cowok yang akrab disapa Dion ini mendapat banyak pengalaman baru. Namun, ada satu yang paling berkesan, yakni ketika mengunjungi Monumen Nasional (Monas). Sebab, seumur hidupnya, Dion baru tahu bahwa orang bisa masuk ke dalam Monas.

“Saya paling suka waktu ke Monas. Saya baru tahu ternyata kita bisa masuk ke dalamnya. Tadinya saya kita itu hanya tugu. Kemudian saya juga senang bisa bertemu dengan Pak Anies Baswedan dan Pak Ahok yang biasanya dilihat di TV saja,” paparnya.

Dengan logat bahasa Melayu yang kental, Dion mengaku betah di Ibu Kota. Menurut dia, pendidikan di kota sudah maju. Berbeda dengan di daerahnya yang buku pelajaran saja terbatas. Belum lagi guru yang jarang masuk dan minimnya fasilitas.

“Kalau anak-anak di sini belajar sudah pakai laptop, mereka pulang sekolah bisa jam enam sore, kalau di sana jam 12 lewat saja sudah pulang. Dengan semangat yang sama, anak-anak di Jakarta masih mau belajar walaupun terkena macet di jalan seharian. Kalau teman-teman saya di sana belum bisa memanfaatkan waktu dengan baik,” ucapnya.

Toleransi, Lanjut Dion, menjadi salah satu poin penting yang dapat dipetik selama pertukaran pelajar di Jakarta. Sebab, di daerahnya masih sering terjadi saling olok antar dua agama yang berbeda. Oleh sebab itu, setelah kembali ke Sebatik nanti, dia akan mengampanyekan nilai toleransi kepada teman-temannya.

“Di Sebatik sana hanya ada agama Islam dan Kristen terkadang masih saling olok. Padahal kita itu seharusnya bisa kerja sama. Di Jakarta, misalnya. Berbagai suku bangsa dan agama berkumpul di sini dan bisa rukun. Kemarin saya juga melihat Masjid Istiqlal tapi di sebrangnya Gereja Katedral. Nanti saya akan bilang ke teman-teman di sana kalau kita harus toleransi,” terangnya.

Sehari-hari, Dion harus berjalan kaki 2,5 kilometer untuk sampai ke sekolah. Sepulang sekolah, pelajar yang bercita-cita menjadi TNI itu kerap membantu kedua orangtuanya berkebun. Bersama teman-temannya, Dion juga sering bermain sepak bola dan voli.

Source : okezone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.