“Lex, aku sering gagal dalam masalah cinta,” keluh Aydiw Iratsel (nama samaran) saat memulai konsultasinya, “Beberapa waktu yang lalu aku kenal dengan seorang pria. Aku kan selalu memegang prinsip nikahkan atau tinggalkan, nah ternyata dia mau memilih nikahin aku. Jadi rencananya kita jalanin pernikahan bulan ini, semuanya sudah siap semua dari gedung, undangan, katering, dsb.”

Saya menyimak sambil memperhatikan bahasa tubuhnya. Aydiw aktif berbicara dengan gerakan tangannya, aktif berkelebat memberikan penekanan di sana-sini. Kata-kata yang dia gunakan jelas mencerminkan dirinya sebagai orang yang terpelajar. Suara renyah tipikal wanita sanguinis yang jenaka itu kemudian perlahan berubah jadi lebih berat dan menerawang. Dia menceritakan dengan penuh keyakinan walau dirinya masih usia 21 tahun dan pasangannya berusia 25 tahun, mereka ingin serius menjalani hubungan itu.

“Tapi kemarin kita ada sedikit masalah. Aku sedang berada di luar negeri, jadi terpaksa pulang ke Jakarta untuk segera menemuinya,” ucapnya. “Kami tidak bisa diskusi lewat chatting karena saya diblok dan di delete contact oleh dia.. itu sudah kebiasaan dia sih. Namun ketika aku sampai di Jakarta, dia tetap tidak bisa ditemui karena alasannya sibuk ini itulah. Besoknya ketahuan dia ternyata sudah punya tunangan. Aku bingung mesti gimana. Malu juga mau merit tapi malah jadi begini kejadiannya, parah!”

Saya tidak tahu bagaimana kamu membacanya, tapi kasus seperti itu adalah hari yang sangat biasa bagi saya. “Bubar saja lah. Mau nikah kok tingkahnya sama-sama bocah seperti itu?” jawab saya pendek.

“Udah, Lex, kemarin kami udah bubar, hahahaha! Aku gagal terus masalah beginian, bantuin!” suaranya yang riang jenaka kembali muncul.

Saya menarik nafas panjang sambil mengambil pulpen untuk mencatat peta perjalanan hubungan mereka, “Kalian sudah kenal sejak kapan, pacaran berapa lama, dan kapan muncul rencana meritnya?”

“Ahahaha, kita kenal mah baru Desember, trus awal Januari kita rencanain merit karena udah pertemuan keluarga dan keluarganya sreg dengan aku. Tapi saat itu keluarganya ga ada bilang dia sudah punya tunangan. Harusnya kita menikah akhir bulan ini, tapi akhirnya ga jadi karena kejadian itu. Padahal saya udah bela-belain resign dari studi dengan beasiswa master degree ke luar negeri cuma gara-gara dia mau nikahin aku.”

Di momen ini dada saya mendadak terasa sesak, sampai-sampai pulpen yang saya pegang terlepas jatuh ke kolong meja.

WHY?!?” ucap saya spontan dengan volume yang agak keras, “Kenapa merit dibuat seperti rencana mainan begitu? Kalian kenal baru satu bulan, kok bisa langsung menyusun pernikahan? Tolong bantu saya mengerti, apa yang ada di otak kamu?”

Wanita berlipstik merah maroon itu menjawab enteng, “Ahahaha Lex, aku juga ga tau kenapa aku mau mau aja. Pikiran aku kan enak tuh kalau punya suami, kemana-mana zona aman. Kalau mau jalan ajak suami bukan temen bukan pacar, ahahaha!”

“Tolong dimanfaatkan dong otaknya, Aydiw, kasian dong masa dijadikan pajangan saja,” jawab saya dengan nada bercanda, berusaha menutupi kegusaran dalam hati. Sulit bagi saya menutupi rasa nyesss pedih yang menggerogoti dada setiap kali menghadapi kisah-kisah seperti ini.

Penggalan kisah di atas merupakan salah satu contoh hasil nyata dari pembodohan yang merakyat. Jika kamu terbiasa menganggap pernikahan sebagai prestasi, tujuan, ataupun jaminan hidup, kamu akan bisa terpeleset ke dalam kesalahan yang seperti itu. Menurut saya Aydiw malah tergolong beruntung tidak jadi menikah, karena hampir dipastikan akan terjadi prahara yang jauh lebih besar seandainya mereka sebagai suami-istri.

pernikahan bukan perlombaan

Jujur, saya tidak pernah mengerti mengapa banyak orang yang berani melangsungkan pernikahan padahal mereka baru saja pacaran dibawah 6 bulan. Saya membenci kapitalisme yang menjadikan hari perkawinan sebagai barang yang lebay mewah, namun sisi positifnya adalah kita jadi terpaksa berpikir panjang tentang pasangan yang kita pilih, bekerja keras dan menabung, sehingga butuh waktu umumnya satu tahun untuk merancang hari perkawinan.

Saya justru meringis ngeri setiap mendengar kisah pasangan yang baru kenal atau berpacaran lalu bisa langsung menetapkan pernikahan dalam hitungan bulan. Apa sih makanan mereka sehingga bisa sebegitu buta dan melompat gila jadi seperti Daredevil?!

Indonesia, The Land of Daredevils!

Pada tahun-tahun awal menjalani profesi sebagai relationship coach, saya otomatis merasa kesal dan ingin marah dengan orang-orang yang bersikap impulsif begitu tentang percintaan. Namun seiring waktu, karena hampir setiap hari dihujani kisah-kisah serupa, saya tidak lagi merasa demikian. Yang seringkali muncul sekarang adalah rasa ngeri, ngilu, dan iba.

Saya merasa sedih pilu menghadapi orang-orang Indonesia yang ngebet/ngebut menikah seperti itu. Saya tidak mungkin marah karena saat itu mereka sedang terjebak dan terlukai (oleh pilihan mereka sendiri); saya harus menjadi sahabat yang membantu mereka berjalan. Namun itu bukan berarti saya tidak ada rasa marah sama sekali. Kemarahan dan kekesalan saya alihkan sepenuhnya pada para orangtua yang sebegitu impoten, dan tidak bertanggung jawab sehingga lalai menanamkan kecerdasan pada anak-anaknya itu.

Berdasarkan pengamatan saya, anak yang ngebet/ngebut menikah biasanya bisa ditelusuri pada berbagai didikan ataupun tekanan orangtuanya, khususnya anak-anak di Asia yang terbiasa disetir mengikuti keinginan orangtua. Saya tidak tahu persis apa dan bagaimananya, namun saya curiga kebudayaan/kepercayaan lokal Indonesia mengandung substansi yang mendorong perilaku ngebet/ngebut menikah. Perilaku tersebut saya bisa temukan di berbagai kalangan usia dan pendidikan. Ada yang muda, ada yang tua, ada yang kalangan terpelajar, ada yang kalangan kurang terpelajar.

Jadi saya melihat ini BUKAN sebagai masalah kecerdasan para pelakunya, tapi masalah pengkondisian dalam masyarakat dan lingkungannya. Cinta memang didesain menghanyutkan fungsi logika kita, dan kadang itu bisa terjadi pada orang yang tercerdas sekalipun. Namun permasalahan utama ada pada atmosfir kedunguan yang terus menerus dipelihara dalam masyarakat kita.

Pernikahan Bukan Perlombaan!

Sialnya, di Indonesia institusi pernikahan masih dikonspirasikan sebagai pembuktian kedewasaan dan kesempurnaan hidup, sehingga masyarakat berlomba-lomba segera melompat ke sana. Setiap tahunnya entah tercipta berapa juta orangtua dungu dan malas yang totally clueless tentang kenapa mereka berkeluarga, mengapa mereka memiliki keturunan, serta bagaimana cara mengasuh dan mencerdaskannya. Seiring waktu, anak-anak mereka pun cenderung meniru teladan (ataupun menuruti tekanan) orangtua dan masyarakat: ngebet/ngebut menikah juga.

Demikianlah seterusnya. Siklus setan. Yang Mengerikan.

Tulisan saya kali ini TIDAK bertujuan memberi solusi, melainkan memberi ajakan dan peringatan.

Jika kamu belum menikah, tolong pukul kepala sendiri sampai terasa sakit, sambil berjanji nanti sebagai orangtua kamu tidak akan meneruskan siklus pembodohan itu. Jika kamu sudah menikah,tolong saling menjedotkan kepala dengan pasangan sampai terasa sakit, sambil berjanji kaliantidak akan meneruskan siklus pembodohan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.