Sebentar lagi kita akan memasukki pergantian tahun ke 2016, dan tentu saja berbagai film yang diantisipasi juga akan hadir di tahun tersebut. Walau demikian, harus kita akui bahwa film-film di tahun 2015 ini sendiri sebenarnya juga tidak kalah menarik.

Sebut saja, kita sudah disuguhi berbagai film box office yang menjadi populer di tahun 2015 seperti Avengers: Age of Ultron, Jurassic World, Furious 7, hingga Star Wars: The Force Awakens yang tayang di pertengahan bulan Desember 2015 kemarin. Namun tentu saja, berbagai film box office yang berhasil tembus peraihan US$ 1 juta tersebut juga tidak kalah banyak dibajaknya.

Berdasarkan data dari perusahaan Excipio via Screen Crush, film karya Christoper Nolan, “Interstellar”, menduduki posisi pertama dari daftar film yang paling sering dibajak. Daftar tahun ini juga memuat data film tahun lalu, berhubung seperti yang kita tahu bahwa ketika sebuah film tayang di layar lebar, maka butuh waktu beberapa bulan kemudian hingga versi DVD atau Bluray-nya rilis di pasaran. Dan Interstellar pun tidak masuk pengecualian.

Berikut adalah 10 film paling sering dibajak sepanjang tahun 2015, dan di antaranya masih termasuk film yang tayang perdana di layar lebar tahun 2014 lalu:

1. Interstellar (2014) – 46,762,310
2. Furious 7 (2015) – 44,794,877
3. Avengers: Age of Ultron (2015) – 41,594,159
4. Jurassic World (2015) – 36,881,763
5. Mad Max: Fury Road (2015) – 36,443,244
6. American Sniper (2014) – 33,953,737
7. Fifty Shades of Grey (2015) – 32,126,827
8. The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014) – 31,574,872
9. Terminator: Genisys (2015) – 31,001,480
10. Kingsman: The Secret Service (2015) – 30,922,987

Tahun 2014 lalu, film yang paling sering dibajak dipegang oleh Wolf of Wall Street dengan 30 juta download. Hasil ini sendiri membuktikan bahwa pembajakan semakin meningkat setiap tahunnya, bahkan tahun 2015 ini meningkat hingga 55 persen.

Apa artinya? Hasil ini membuktikan juga bahwa penetrasi internet di dunia semakin tinggi setiap tahunnya sehingga akses untuk melakukan download ilegal ini lebih leluasa ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Apakah berarti hal ini merugikan pihak studio yang telah susah payah membuat filmnya? Rasanya terlalu sempit jika menyalahkan pembajakan semata jika berbicara untung dan rugi sebuah studio film, tetapi secara logikanya pembajakan memang salah satu alasan pihak studio bisa merugi. Karena bisa di-download dengan mudah, besar kemungkinan sebagian orang tidak tertarik untuk “membayar” (misalnya, menonton di bioskop atau membeli produk videonya) untuk bisa menonton film.

source : jagatreview

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here