Jakarta – Harga minyak mentah turun lebih dari 3 persen pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dengan Brent meluncur menuju posisi terendah  dalam 11 tahun.

Harga minyak kian terpuruk seiring dengan semakin meningkatnya stok minyak Amerika Serikat (AS) dan adanya sinyal Arab Saudi bakal terus menambah pasokan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Kamis (31/12/2015), harga minyak jenis Brent turun US$ 1,33 atau 3,5 persen menjadi US$ 36,46 per barel. Angka ini merupakan level terendah dalam 11 tahun terakhir.

Sedangkan harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 1,27 atau 3,4 persen menjadi US$ 36,6 per barel.

laporan dari Energy Information Administration (EIA) menyebutkan, persediaan minyak mentah di AS, produsen minyak terbesar di dunia, naik 2,6 juta barel pekan lalu.

Angka kenaikan ini lebih tinggi dari prediksi Analis yang disurvei oleh Reuters nyang memperkirakan adanya tambahan stok 2,5 juta barel.

Stok mencapai rekor tertinggi pada pengiriman di hub Cushing, Oklahoma untuk minyak mentah berjangka AS jenis WTI. Stok bensin dan minyak pemanas juga diprediksi naik tajam.

“Dari semua pengalaman saya bertahun-tahun, belum pernah saya melihat adanya stok yang meningkat pada minggu terakhir bulan Desember,” kata Tariq Zahir, pedagang minyak berjangka dari Tyche Capital Advisors, di Long Island, New York.

Harga minyak mentah telah jatuh dua pertiga sejak pertengahan 2014 karena adanya melonjak produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan Amerika Serikat yang menciptakan surplus minyak global antara 500 ribu hingga 2 juta barel per hari.

Ali al-Naimi, Menteri Perminyakan Arab Saudi yang memimpin OPEC, mengatakan kerajaan tidak akan membatasi produksi minyaknya.

Saat stok melimpah, kantor berita China Xinhua melaporkan, konsumsi energi China pada tahun 2015 tumbuh terendah sejak tahun 1998.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here