Rumah Sakit Pendidikan Harus Terpadu Multidisiplin Ilmu

0
303

DEPOK – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) siap beroperasi pada 1 Oktober 2016. Rumah sakit ini akan diprioritaskan pada pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan primer. RSUI merupakan rumah sakit pendidikan kelas B yang menerapkan konsep kendali infeksi komprehensif dan berbasis rumah sakit primer, sekunder, tersier, dan penelitian berkelas internasional.

Pelayanan utama yakni neurokardiovaskular, high risk maternal dan perinatology, infeksi, hingga pelayanan promotif dan prefentif pralansia. Pada tahap awal akan dibangun 300 ruang yang separuhnya disediakan bagi pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Kementerian Kesehatan turut diminta mendampingi pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk operasional rumah sakit tersebut. “Selama ini kan rumah sakit pendidikan masih menggunakan milik Kementerian Kesehatan. Dibangunnya rumah sakit pendidikan yang nanti secara penuh akan milik perguruan tinggi. Diharapkan pengelolaannya bisa saling mendukung antara kebutuhan pendidikan dan kebutuhan pelayanan. Upaya-upaya penyiapan SDM ini pasti dipersiapkan secara bertahap. Tidak mungkin semua dosen yang ada di Salemba atau RSCM pindah ke sini, pasti akan ada transisi semua saling mengisi,” kata Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr Kirana Pritasari, MQIH, di Kampus UI Depok, Senin 16 November 2015.

Kirana menjelaskan, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan sistem pengelolaan kesehatan rumah sakit pendidikan agar menjadi suatu pusat pelayanan dan pendidikan yang terpadu. Artinya, operasional rumah sakit pendidikan baik jika dilakukan dengan multidisiplin ilmu.

“Pasti saya yakin Indonesia ataupun pendidikan tinggi sedang menyiapkan khusus secara detail bagaimana academic health system itu dibangun suatu sistem pengelolaan antara rumah sakit sebagai pelayanan dan rumah sakit sebagai tempat pendidikan yang harus berkolaborasi dengan lima fakultas yakni fakultas kedokteran, fakultas kedokteran gigi, fakultas ilmu keperawatan, fakultas farmasi, dan fakultas kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Sehingga, kata Kirana, diharapkan semua bisa berjalan antara pelayanan dan pendidikan. Dosen yang juga berpraktik di rumah sakit dituntut untuk tetap memajukan dunia pendidikan, menyeimbangkan dengan pelayanan, serta memajukan dunia riset.

“Bagi mahasiswa dan dosen kariernya terpenuhi, karier terbangun. Selama ini dosen yang mengajar di rumah sakit juga dari Kementerian Kesehatan, dosen pengajar milik Kemenkes. Nanti dosen di sini ya tetap harus memajukan keilmuannya, harus banyak riset, banyak lakukan inovasi, ya pendidikan dan pelayanan. Di antaranya, UI, Universitas Hasanuddin, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Diponegoro,” jelas Kirana.

source : okezone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here