Tujuh “Dosa” Perusahaan yang Tak Disadari Karyawan

0
426

KARYAWAN merupakan aset penting di sebuah perusahaan. Perusahaan yang mapan sekali pun, akan kelimpungan bila karyawannya tidak bahagia dan kinerjanya menurun, atau memutuskan pindah ke tempat lain.

Masalahnya, sering juga perusahaan memperlakukan karyawan dengan tidak adil dan bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Sayangnya, kesalahan ini sering tidak diketahui oleh karyawan, atau bisa jadi karyawan mengabaikannya karena dianggap hal yang wajar.

Berikut tujuh pelanggaran perusahaan yang dimaksud:

1. Generalisasi

Ini terjadi bila pihak perusahaan menemukan seorang karyawan melakukan kesalahan, tetapi memberikan sanksi untuk semua karyawan atau anggota tim yang terlibat di dalam proyek tertentu. Padahal mereka tidak punya sangkut paut dengan kesalahan tersebut.

Penyamarataan sanksi ini menyebabkan para karyawan jadi saling menyalahkan dan akibatnya kondisi kerja jadi tidak kondusif.

2. Jam Lembur tidak Jelas

Tentu saja bekerja overtime alias lembur juga ada peraturannya yang harus dipatuhi pihak perusahaan. Seringkali karyawan terpaksa masih harus menyelesaikan pekerjaan yang baru ditugaskan kepada mereka setelah jam kerja sudah lewat. Alasan deadline menjadi justifikasi kalau pekerjaan tersebut harus selesai meskipun melanggar peraturan yang berlaku.

3. Penolakan Cuti

Cuti adalah hak karyawan, namun seringkali hak yang satu ini “terbang” begitu saja karena kesibukan di kantor. Memang perusahaan bisa menentukan untuk memberi Anda izin cuti atau tidak, tergantung waktu cuti yang Anda ajukan. Namun seharusnya, jika cuti Anda ditolak, perusahaan tetap harus mengizinkan Anda cuti di hari lain, dan tidak membiarkan ada satupun karyawan yang melalui masa satu tahun kerja tanpa pernah satu hari pun cuti.

Memang ada beberapa perusahaan yang mengizinkan cuti tak terpakai untuk dibawa ke tahun berikutnya, dan perusahaan yang lebih profesional biasanya justru mengingatkan karyawannya jika cutinya belum dihabiskan. Sayangnya, di Indonesia sepertinya banyak perusahaan yang mempersulit izin cuti namun tidak memberikan kompensasi apa pun terhadap kehilangan hak cuti ini, karena menganggap ini keteledoran karyawan semata.

4. Melakukan Pekerjaan di Rumah

Seringkali di hari libur karyawan harus menyelesaikan pekerjaan di rumah untuk dibawa rapat keesokan harinya. Bekerja di rumah ini tidak masuk dalam lembur, jadi tidak ada kompensasi apa-apa. Karyawan juga sering tidak sadar, karena dia tak keberatan bekerja dari rumah dan tidak perlu ke kantor. Padahal bekerja di rumah justru merugikan dirinya karena waktu yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga atau teman-teman malah dipakai untuk kerja.

5. Dua Fungsi untuk Satu Orang

Perusahaan sering memberikan dua fungsi yang berbeda kepada satu orang karyawannya, misalnya Marketing merangkap Business Development. Ini biasa dilakukan oleh perusahaan yang punya sedikit karyawan dan cenderung melakukan efisiensi. Padahal mengerjakan dua peran yang berlainan sekaligus hasilnya akan jauh dari sempurna dan salah satunya pasti akan keteteran.

Di lain pihak, karyawan biasanya tidak merasa dibebankan dengan double-tasks tersebut. Sebaliknya, dia merasa bangga karena diberi lebih banyak tanggung jawab dan dipercaya oleh perusahaan untuk memegang dua jabatan sekaligus.

6. Tidak Transparan

Memang ada beberapa informasi rahasia yang biasanya hanya diketahui oleh para petinggi perusahaan. Namun informasi mengenai kondisi perusahaan, laba, kerugian, strategi perusahaan, perubahan organisasi, hingga rencana ke depan penting diketahui semua karyawan karena mereka juga bagian dari maju mundurnya perusahaan tadi.

Bila perusahaan cukup informatif dan terbuka, karyawan juga tidak akan salah mengimplementasikan kebijakan yang sudah diatur, dan tak akan terjebak dengan gosip dan isu melenceng soal perusahaan yang didapat dari sumber lain.

7. Pilih Kasih

Semua perusahaan pasti memiliki peraturan. Tetapi bagaimana jika peraturan tersebut tidak berlaku bagi sejumlah karyawan yang ‘spesial’?

Tak jarang di beberapa perusahaan, pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai level tinggi dibiarkan saja. Padahal jika pelanggaran yang sama dilakukan oleh karyawan level bawah, ia biasanya dikenakan sanksi. Diskriminasi ini juga bisa berlaku pada karyawan kesayangan atasan yang seakan kebal aturan.

Ketidakpastian peraturan seperti ini akan menimbulkan kecemburuan antarkaryawan yang menyebabkan menurunnya kinerja. Perusahaan juga dirugikan karena jika ada karyawan yang dibiarkan melanggar aturan, karyawan lainnya pun tak akan menganggap serius peraturan tersebut.

source : okezone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here