My Sister’s Keeper: Manusia Berkuasa atas Tubuhnya

0
212

Pertama-tama, perlu ditegaskan bahwa ini bukan film hukum. Jadi, jangan berharap anda akan menemukan perdebatan, istilah-istilah, atau adegan-adegan yang berkaitan dengan hukum sepanjang film ini.

Pada bagian tertentu, film My Sister’s Keeper memang menyajikan adegan gugat-menggugat, termasuk proses persidangan di pengadilan. Namun, adegan itu mungkin hanya sepertiga dari keseluruhan film yang berdurasi 109 menit ini. Meskipun porsinya minim, adegan-adegan itu justru bagian paling penting dan menarik dari film yang diangkat dari sebuah novel karya Jodi Picoult dengan judul yang sama.

Alkisah, ada sebuah keluarga di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat yang terdiri dari ayah-ibu, Brian-Sara Fitzgerald serta tiga orang anak yakni Jesse, Kate, dan Anna. Kisah film ini terpusat pada diri Kate-Anna. Kate adalah seorang anak perempuan malang yang sejak umur dua tahun “divonis” mengidap penyakit leukimia akut (acute promyelocytic leukemia). Lalu, Anna adalah adik Kate alias si bungsu.

Hubungan Kate dan Anna, dimainkan sangat baik oleh aktris remaja Sofia Vassilieva dan Abigail Breslin, tidak sebatas kakak dan adik. Lebih dari itu, Anna adalah “penopang” hidup Kate agar tetap hidup sekaligus berupaya sembuh dari penyakit leukimia. Sedari lahir, atau bahkan sebelum itu, Anna memang dipersiapkan untuk membantu penyembuhan sang kakak.

Awalnya adalah saran dari seorang dokter spesialis yang menangani Kate. Si dokter mengatakan kepada Brian dan Sara bahwa anaknya sulit sembuh dari leukimia. Kate hanya bisa bertahan hidup jika mendapat donor organ yang cocok. Masalahnya, jumlah pendonornya tidak banyak tersedia, kalaupun tersedia harus antri.

Menyiasati kondisi ini, si dokter pun memberikan saran yang ia sebut “saran informal” yakni Brian dan Sara harus memiliki anak lagi. Tujuannya, bukan semata ingin memberikan adik kepada Kate, tetapi juga mempersiapkan calon donor organ yang, dengan metode medis tertentu, dapat dirancang cocok untuk Kate. Tanpa berpikir panjang, Brian dan khususnya Sara menerima saran itu. Sepanjang film ini, Sara yang dimainkan dengan cukup baik oleh aktris Cameron Diaz digambarkan sebagai ibu yang berupaya total demi kesembuhan anaknya.

Singkat cerita, Anna pun lahir. Tahun demi tahun, Anna tumbuh menjadi seorang remaja yang sekilas terlihat normal. Tapi, sebenarnya sejak kecil, Anna berulang kali keluar masuk ruang operasi demi mendonorkan bagian tubuhnya untuk sang kakak. Rutinitas ini berjalan untuk beberapa waktu lamanya, hingga akhirnya Anna melakukan sesuatu yang sama sekali di luar dugaan orang tuanya.

Bermodalkan uang tabungan pribadinya sekitar AS$700, Anna ditemani Jesse nekat bertandang ke kantor Campbell Alexander, seorang pengacara yang dalam iklannya mengklaim memiliki prosentase kemenangan 90 persen. Kepada Campbell, Anna mengemukakan rencananya menggugat kedua orang tuanya. Dia ingin menuntut “kebebasan secara medis” (medical emancipation) alias tidak mau lagi dipaksa mendonorkan organnya, meski itu untuk kesembuhan sang kakak.

“Saya ingin menggugat orang tua saya untuk memperoleh hak atas tubuh saya sendiri,” ucap Anna yang baru berusia 13 tahun dengan begitu percaya diri saat bertandang ke kantor Campbell.

Meski awalnya mengaku kaget, Campbell akhirnya menerima permohonan Anna untuk menjadi kuasa hukum. Gugatan pun didaftarkan. Respon orang tua Anna, khususnya Sara, sontak marah begitu menerima surat pemberitahuan dari pengadilan. Pertanyaan singkat “kenapa?” dari sang Ibu dijawab lugas oleh Anna, “karena saya tidak mau melakukannya lagi. Ini tubuh saya, saya ingin dapat menentukan sendiri apa yang akan dilakukan terhadap tubuh saya”.

Melihat keteguhan niat Anna, Sara yang kebetulan berprofesi sebagai pengacara, tidak memiliki pilihan kecuali menghadapi gugatan itu. Sidang antara anak versus ibu pun digelar. Uniknya, selama proses persidangan berjalan, keutuhan keluarga Fitzgerald tetap terjaga, khususnya antara Sara dan Anna.

Dalam persidangan, akhirnya terungkap bahwa gugatan Anna ternyata tidak sekedar bermodalkan nekat. Anna justru diminta Kate untuk menggugat kedua orang tuanya. Hal ini dilakukan Kate karena dia merasa sudah putus asa berjuang melawan leukimia.

Kisah akhir film ini, meskipun sangat berbeda dengan apa yang tertuang dalam novel Jodi Picoult, bisa dibilang “happy ending”.

Meskipun, sekali lagi perlu ditegaskan, ini bukan film hukum, tetapi My Sister’s Keeper mengusung pesan yang sangat penting mengenai hukum. Setidaknya menurut hukumonline, film ini membawa pesan moral “menuntut hak itu adalah juga hak setiap orang, berapapun usianya”. Pesan lainnya adalah bahwa “setiap manusia berkuasa penuh atas tubuhnya”. Begitu pula anda. Jadi, tidak ada yang bisa melarang anda untuk menangis setelah menikmati film ini.

Source : hukumonline

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here