Maskapai Nasional Masih Minim Dukungan

0
288

JAKARTA – Industri penerbangan Indonesia masih terbebani dari regulasi penerbangan yang ada. Padahal peluang bagi industri penerbangan untuk berkembang terbuka lebar.

Ketua Masyarakat Hukum Udara Indonesia Andre Rahadian mengatakan, banyak yang sebenarnya bisa membuktikan bahwa penerbangan merupakan industri yang masih memiliki masa depan yang indah. Hal tersebut terbukti dari makin berkembangnya industri penerbangan global.

Berdasarkan data IATA, saat ini trafik transportasi udara tersebar hampir sama rata di seluruh dunia baik Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik. Namun diperkirakan tahun 2030 peluangnya akan berubah diaman Amerika Utara diprediksi tumbuh 25 persen, Eropa 25 persen dan Asia Pasifik 50 persen.

“Bahkan industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik diperkirakan terus meningkat ke depannya,” tutur Andre di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (7/11/2015).

Andre melanjutkan, penumpang angkutan udara di Asia Pasifik juga diperkirakan tetap akan tumbuh stabil, meskipun terjadi penurunan aktivitas perdagangan di beberapa negara berkembang Asia dan perlambatan ekonomi di China. Per September 2015, trafik penumpang di kawasan ini meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun sayangnya, maskapai nasional masih terbebani masalah-masalah regulasi yang membebani. Seperti harga avtur yang tinggi dan mahalnya tarif bea masuk dan pajak bagi onderdil pesawat.

Oleh karena itu, Andre memandang diperlukan sinergi dari berbagai stakeholders untuk menelaah kembali kebijakan-kebijakan tersebut, terutama pemerintah sebagai regulator. Hal tersebut demi menumbuh kembangkan industri maskapai nasional, terutama di tengah-tengah iklim industri yang kian kompetitif.

“Tidak hanya perusahaan penerbangan yang dituntut untuk efisien, tetapi juga industri penerbangan yang mencakup regulator, operator bandara, dan sektor-sektor pendukung lainnya,” pungkasnya.

source : okezone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here