EKSKLUSIF Wawancara Jack Black dan 3 Bintang Goosebumps

0
706

Jakarta Sebelum generasi sekarang jatuh hati dengan Harry Potter,Twilight, Hunger Games ataupun Maze Runner, generasi 1990-an jatuh hati denganGoosebumps. Di bioskop kini kita diajak bernostalgia dengan seri novel horor karya R.L. Stine tersebut.

Lebih dari sekadar nostalgia, generasi baru pun diajak berkenalan dengan horor alaGoosebumps. Bukan jenis horor yang bikin ketakutan ala Insidious, The Conjuring atauAnnabelle, melainkan horor-aman alias rasa ketakutan yang asyik. Menontonnya seperti menonton film petualangan remaja macam Jumanji (1995).

Seperti Jumanji yang punya mendiang Robin Williams dan Kirsten Dunts yang waktu itu masih ABG, Goosebumps pun punya Jack Black dan bintang anyar-anyar berusia ABG yakni, Ryan Lee, Odeya Rush dan Dylan Minnette.

Monster atau makhluk halus apa yang kalian paling takuti dan paling sukai?

Ryan Lee: Oke, menurutku yang paling menakutkan adalah abominable snowman(manusia salju). Yang paling saya suka mungkin lawn gnomes (kurcaci ajaib), namun mereka bukan tipe makhluk yang bakal bikin kita jatuh hati.

Odeya Rush: Buat saya yang menakutkan adalah anjing monster poodle karena wujudnya menipu. Awalnya imut, tapi wujud itu bisa menipu. Dan juga manusia salju.

Ryan: Anjing poodle juga! Menakutkan tapi juga bikin jatuh hati.

Jack Black: Slappy adalah yang paling menakutkan karena dia jenius. Dia penjahat yang jenius. Dan yang paling bikin jatuh hati adalah Bog Monster. Wujudnya seperti pantat raksasa, bikin ingin memeluk pantat yang besar.

Dylan Minnette: Jawaban saya sedikit berbeda. Yang paling menakutkan adalah praying mantis (belalang raksasa), sedang makhluk yang ingin saya bawa pulang justru Slappy.

Apa yang membuat Goosebumps berbeda dengan film lain tentang monster-monster?

Jack: Kebanyakan film monster ditujukan bagi penonton usia lebih dewasa. Bahkan, faktanya, saya bisa bilang mungkin 95 persen film monster saat ini. Film ini bisa ditonton dari usia 8 sampai 88 tahun. Jadi, kalau usia Anda 89 dan 7 tahun jangan nonton. Hehehe… bercanda. Semua umur bisa nonton film ini.

Film ini berbeda karena meski kami membuat monsternya terlihat nyata, kami tak ingin membuat mereka mengalami mimpi buruk usai nonton. Kami justru membuat penonton ketakutan tapi juga sekaligus bersemengat. Kami tak memberi sesuatu yang merusak otak mereka.

Mengingat begitu banyak seri novel Goosebumps, bagaimana mempersiapkan diri menyelami peran di film ini?

Dylan: Saya tumbuh dengan membaca novel-novelnya. Jadi, saya sudah punya pengetahuan tentang Goosebumps, yang turut menginspirasi saya untuk terus membaca buku. Malah bagi saya filmnya terasa sangat nostalgis. Ini pengalaman menyenangkan.

Apa yang membuat kalian merinding atau goosebump?

Ryan: Hantu. Itu bikin merinding ketakutan.

Odeya: Saat kecil saya paling takut naik escalator. Saya sampai sekarang masih sedikit takut ketika naik escalator dan saat sudah sampai di ujung.

Ryan: Kamu mengidap fobia.

Odeya: Ya, saya fobia escalator.

Jack Black: Saya selalu dibuat merinding oleh ular. Saya ingat betul waktu kecil, seorang teman yang punya seekor ular meminta saya menjaga peliharaannya itu sewaktu dia mau ke luar kota. Saya menaruhnya di akuarium di kamar. Sewaktu bangun pagi, saya mendapati ularnya tak ada di dalam akuarium. Selama berjam-jam saya mencarinya tetapi tak ketemu. Akhirnya saya menemukannya di ranjang. Bagi saya itu sangat menakutkan, dan sejak itu saya takut ular.

Ryan: Saya tak pernah melihat hantu, jadi… hahaha.

Dylan: Saya rasa jawaban yang diberikan bagus-bagus. Jadi saya ingin memberi jawaban berbeda: musik yang bagus bikin saya merinding.

Jack: Itu tipe merinding yang berbeda.

Apa hal menakutkan yang kalian alami saat syuting?

Ryan: Ada. Ketika dikejar 40 monster.

Odeya: Kami sungguh seperti harus berlari menyelamatkan nyawa kami. Saat pakai CGI dan layar hijau, kami berpura-pura saja. Beda halnya saat berlari karena betul-betul ada yang mengejar.

Ryan: Kami sampai berteriak keras.

Odeya: Kalau tak lari bisa celaka. Jadi harus berlari.

Pernahkah ada yang begitu ketakutan saat melihat monster-monster di film ini?

Jack: Tidak, karena bila iya berarti sudah gila. Maksud saya, hal itu adalah esensi akting–pura-pura terlihat ketakutan. Saya selalu memisahkan akting dengan realitas.

Di film, kalian bersatu melawan monster, apa dampak karakter yang dimainkan tersebut pada diri kalian masing-masing?

Ryan: Bagi saya yang terpenting setia kawan. Tokoh Champ biasanya cuma bisa lari. Namun itu yang membuatnya tetap hidup.

Odeya: Saya lebih sering bersikap kalem dan diam. Bersikap seperti itu membuat kita punya waktu memikirkan apa yang akan kita lakukan.

Jack: Itu benar banget. Jangan panik. Nggak boleh panik di sini. Saya rasa, kontribusi R.L. Stine adalah dia yang memiliki buku-buku ajaib. Dia yang punya kemampuan menangkap monster. Jadi, saya yang paling banyak bersikap tenang dan kalem.

Dylan: Dan Zach justru yang memulai semua bencana ini, dan saya rasa dia menyadarinya. Jadi dia berusaha sebisa mungkin mengembalikan monster-monster ke dalam buku. Zach sangat ingin misinya tuntas.

Jack: Kalau ada pahlawan di film ini, dia adalah Zach.

Dylan: Menurut saya pahlawannya Stine.

Jack: ya, betul, sebenarnya Stine.

Bagaimana rasanya berakting bareng Jack Black?

Odeya: Siapa?

Jack: Saat orangnya ada di sini, Anda ingin mereka memberi tahu kesannya tentang saya?

Dylan: Siapa tadi? Siapa namanya?

Ryan: Dia yang terbaik.

Dylan: Dia jelas pria paling keren.

Odeya: Ya, energi dan semangatnya menular. Itu sebabnya kami bersenang-senang sekarang. Di lokasi syuting dia menyiapkan energi penuh semangat bagi kami, dan sungguh baik punya  energi seperti itu di lokasi syuting.

Ryan: Apa kau dengar ini semua, atau sedang menelan informasinya?

Jack: Ya, saya dengar. Ini sangat menyentuh. Teruskan. Ryan, kau mau bilang sesuatu?

Ryan: Oh iya. Wow! Jack, pertama, sungguh sebuah kehormatan bekerja denganmu. Saya ingin bilang juga, sungguh menyenangkan bekerja denganmu. Saya harap kita akan bersama membuat sekuelnya.

Jack: Nah, itu dia. Itu hal utamanya.

Dylan: Saya merasa Jack memberi kami semua pelajaran bagaimana pekerjaan jadi mudah, dan membuat semuanya punya waktu menyenangkan saat bekerja.

Ryan: Ya, bersenang-senanglah di tempat syuting.

Dylan: Belajar jadi orang hebat.

Jack: Terima kasih kawan-kawan. Saya cinta kalian.

Goosebumps adalah novel tahun 1990-an yang disukai banyak orang, bagaimana kalian meneruskan kecintaan itu bagi generasi baru?

Jack: Well, menurut saya, kami telah membuat film lucu sekaligus menakutkan sebagai tontonan keluarga. Kami merasa telah bersetia pada novel asli Goosebumps. Saya merasa, sehabis nonton ini, akan banyak anak-anak mencari buku-bukunya. Saya harap itu jadi efek sampingan dari film ini.

Bisakah kalian cerita saat bertemu R.L. Stine yang asli.

Jack: R.L. Stine sangat lucu. Dia punya sisi humor gelap yang mungkin kalian pernah bayangkan. Dia banyak menceritakan leluconnya saat syuting.

Dylan: Saya bersamanya dalam sebuah diskusi panel di New York belum lama ini, dan dia banyak bercerita lucu tentang bagaimana ia menulis dan lain-lain.

Ryan: Dia sangat lucu.

Apa kesan pertama saat bertemu R.L. Stine?

Dylan: Kesan pertama saya dia sangat baik, sangat manis dan mudah untuk menyukainya.

Jack: Dia sangat gampang meluangkan waktunya untuk kami. Dia datang ke lokasi syuting, memberi kami dukungan. Dan hal itu sangat kami butuhkan karena membuat syuting sangat menantang. Maka, mendapat dukungan dari pengarang aslinya sangat penting. Jadi, kami senang melihatnya di lokasi syuting memberi support pada kami.

 

sumber : liputan6

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here