10 Jenis Teman Paling Menyebalkan untuk Gamer!

0
691

Gaming dan pertemanan sebenarnya bukan dua konsep yang bertolak belakang. Sebagai sebuah media yang diciptakan untuk menghadirkan rasa senang via beragam tantangan di ruang tamu, tidak sedikit game yang memang didesain untuk dinikmati bersama orang lain. Di saat sekarang, dengan popularitas internet yang terus tumbuh pesat, Anda bahkan tak perlu lagi bertemu dengan orang lain secara fisik untuk terlibat di dalam satu game yang sama, kooperatif ataupun kompetitif. Walaupun demikian, tidak sedikit game yang bertahan dengan cita rasa klasik terlepas dari tren yang satu ini. Game-game yang akan tetap lebih seru dinikmati jika Anda bertarung dan melihat reaksi teman Anda secara langsung. Anda bisa memasukkan game-game dengan genre sports dan party ke dalam kategori yang satu ini. Gamenya sendiri bisa menyenangkan, namun teman Anda tidak.

Bertemu dengan banyak orang dengan kepribadian dan isi otak yang berbeda-beda memang jadi pengalaman yang sangat menarik, tetapi juga berpotensi melelahkan di saat yang sama. Ada saatnya, ketika status “teman” sudah disandang, Anda selalu berakhir harus memberikan batas toleransi lebih tinggi untuk setiap tindak tanduk mereka, apalagi ketika sesi gaming yang seharusnya menyenangkan sekalipun, tengah berlangsung. Tetapi bisa juga, di sesi lain, Anda yang sebenarnya berperan sebagai “teman” yang tak begitu disukai ini namun tidak pernah Anda sadari sebelumnya. Teman-teman yang terlihat begitu “sempurna” ketika Anda terlibat dalam beragam aktivitas apapun, namun berubah menjadi “monster” yang tak lagi begitu disukai ketika hobi utama Anda – gaming mengemuka.

Dari semua jenis teman yang mungkin pernah Anda temui sepanjang hidup, terutama jika mereka memiliki hobi yang sama dengan Anda – yakni gaming, inilah 10 tipe yang paling menyebalkan menurut JagatPlay:

  1. King Oil

breaking bad money

Yang ini mungkin pernah Anda dan kami lakukan, secara sadar maupun tidak sadar. Namun bagi seorang gamer, sebuah game baru yang meluncur ke pasaran adalah hal yang sangat berharga. Masalahnya? Harganya sendiri terhitung sangat mahal, apalagi jika Anda membandingkan harga sebuah game original dengan rata-rata gaji karyawan per bulannya, misalnya.

Oleh karena itu, tidak sedikit gamer yang harus membuat skala prioritas game-game apa yang jadi target belanja bulanan mereka dan siap menangis di pojokan ketika bulan yang sama ternyata memuat 2-3 game yang hendak ia mainkan. Sementara di sisi lain, munculah para “Raja Minyak” yang tak ragu untuk berbagi game-game yang baru mereka beli di timeline Facebook, Instagram, atau Path Anda dengan segala macam hashtag yang ada. Ketika Anda masih berjuang untuk menabung, semua Collector Edition berharga 3-5 kali lipat yang baru mereka beli seolah menjadi garam yang dioleskan di atas luka. Perih, sakit, dan membuat rasa frustrasi muncul berkali-kali lipat. Para Raja Minyak ini mungkin tak berniat jahat, namun sedikit rasa narsistik mereka bisa jadi sesuatu yang sangat menyebalkan dan membuat rasa iri di saat yang sama. Ingat, bisa jadi Anda bukan korban, dan Anda justru jadi pelaku di list nomor 10 ini tanpa Anda sadari!

  1. Leecher

power leveling

Kita semua pasti punya teman seperti ini. Teman-teman yang ingin merasakan nikmatnya industri game dan seberapa menyenangkan sensasi yang ia tawarkan, namun tak pernah mau berkorban. Senang dengan game yang baru dirilis? Mereka akan dengan sabar menanti Anda menyelesaikan game yang baru Anda beli dan berakhir hanya meminjam. Tertarik dengan game bajakan? Meminta Anda untuk mengunduhnya dan memberikan datanya kepada mereka setelahnya. Terlalu sulit menyelesaikan sebuah tantangan di dalam game? Meminta Anda untuk berbagi save data agar mereka tak perlu repot-repot berhadapan dengan sumber frustrasi seperti ini. Atau ketika Anda memainkan game MMO dan setengah kepayahan mencapai level Anda yang tinggi sekarang? Maka tanpa seizin Anda, mereka dengan mata memelas dan suara yang begitu lembut meminta Anda untuk menjadi tameng damage Anda sembari menghisap exprience yang mereka butuhkan. Anda pasti punya teman seperti ini, yang bahasa kasarnya bisa didefinisikan dengan kalimat sederhana, “Gamer mau enaknya doank..”.

  1. 1001 Alasan

Pro Evolution Soccer 2016_20150921235327

Di dalam sebuah game kompetitif, menang dan kalah adalah sesuatu yang biasa. Sebuah pertandingan, apapun itu, baik game fighting, sepakbola, basket, racing, atau sekedar game party dengan banyak mini game, akan diakhiri dengan pemenang dan pecundang. Sebuah fakta yang tak akan bisa diubah dengan cara apapun. Namun Anda akan selalu menemukan seorang teman yang tidak pernah menerima fakta bahwa ia berada di sisi pecundang karena memang Anda punya skill lebih baik. Oh, Anda pernah bertemu dengan teman seperti ini. Teman yang secara konsisten mengeluarkan 1001 alasan untuk membuktikan bahwa ada faktor eksternal lain yang berpengaruh pada kekalahannya di luar skill, dan secara konsisten meminta Anda melakukan tanding ulang. “Ah, sticknya rusak ini..”, “Wah, tadi gua belum serius, bro. Nah sekarang gua mau serius nih.”, “Tadi gua cuman ngetes formasi doank, kali ini sungguhan deh”, “Ah..lu banyakan ngajakin gua ngomong sih, gua jadi enggak konsen..”, dan beragam alasan membosankan lainnya. Cara menanganinya? Yang terbaik adalah meladeni setiap tantang ulang yang mereka inginkan, dan melemparkan fakta lebih keras ke muka mereka bahwa Anda memang menang karena skill.

  1. Fanboy Garis Keras

fanboy

Industri game seharusnya adalah sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang kita nikmati sebagai seorang gamer secara keseluruhan. Namun selalu ada satu kelompok garis keras, terlepas dari apapun motivasinya, yang jatuh hati dan beraksi layaknya pasukan berbayar yang berdiri di bawah bendera produk tertentu. Kelompok tak rasional yang kita sebut sebagai “Fanboy”. Punya teman seorang fanboy menjadi sesuatu yang cukup menyebalkan ketika Anda berupaya untuk membangun sebuah percakapan yang lebih terbuka, menggali informasi lebih akurat dan dalam, tanpa menyuntikkan elemen emosi apapun di dalamnya. Proses tukar pikiran dan argumen yang diciptakan oleh seorang “bocah kipas” selalu berakhir dengan justifikasi, se-absurd apapun, untuk memastikan produk yang mereka bela menjadi yang paling superior dan terkuat. Sulit untuk diajak bertukar pikiran, sulit untuk diajak menikmati industri game sebagai sebuah keseluruhan. Mereka seringkali memperlihatkan diri sebagai gamer-gamer dengan pikiran tertutup, namun punya sensitivitas yang tinggi.

A: “Bro, lu udah main The Last of Us, belum?”
B: “Ihhhhhhhhh.. ngapain. Gambar sampah, cerita sampah. Overrated lah itu. Mending Crysis dimana-mana..”
A: “Ooo.. udah main emangnya?”
B: “Belum..”
*Flip table*

 

  1. 1-Upper

1 UP

Kalau tipe teman yang satu ini, sudah pasti akan membuat darah Anda mendidih, terlepas apakah kita membicarakan sebuah topik terkait gaming ataupun tidak. Seorang gamer tentu tahu bahwa “1-UP” punya konotasi super positif. Di game-game klasik seperti Mario atau Sonic misalnya, 1-UP berarti nyawa ekstra yang Anda dapatkan, membuat Anda semakin jauh dari Game Over yang diasosiasikan dengan bencana. Namun dalam konteks pertemanan, 1-Upper adalah sumber kejengkelan tersendiri. Jadi apa itu 1-Upper? Anda bisa mendefinisikannya secara sederhana sebagai teman yang selalu punya cerita “simpanan” yang lebih punya impact, terlepas bohong atau tidak, terkait sebuah cerita yang baru Anda bagi untuk memastikan perhatian mengarah pada dirinya. Dan ketika definisi ini selesai dibaca, otak Anda mungkin tengah memikirkan sebuah nama atau wajah yang tampaknya memenuhi kategori yang satu ini.

Sebagai seorang gamer, ada kalanya Anda hendak berbagi kesenangan yang baru saja Anda alami ketika baru saja menyelesaikan sebuah tantangan, misalnya. Dengan senyum lebar, Anda mulai berbagi kisah kesuksesan tersebut ke teman lain yang mungkin mengerti pengorbanan yang harus Anda jalani. Namun di depan seorang 1-Upper, cerita apapun yang Anda lemparkan akan jadi sumber bagi dirinya untuk menyombongkan diri dan menarik semua perhatian yang ada.

A: “Wah.. gua akhirnya berhasil nyelesaiin Bloodborne kemarin malam, guys..”
B: “Itu mah belum seberapa, gua donk, kemarin baru Platinum.. Gila susahnya..”
A: “Oke..”

A: “Sumpah capek banget, gua hampir setengah jam kalik baru bisa ngalahin si Omega Weapon”
B: “Itu mah belum seberapa bro.. Gua dulu sampai 2 jam sendiri buat ngalahin dia, gak pakai high level item”
A: “Oke..”

A: “Setelah nabung 3 bulan, gua finally bisa beli MGS V ini. Hore!”
B: “Halah, lu gitu aja bangga. Gua dulu sampai kerja part time segala buat beli Playstation pertama gua. Gua sampai gak jajan tiap hari. Nyokap gua sampai mau ngusir gua dari rumah..”
A: “Oke..”

1-Upper tak akan memberikan kesempatan bagi Anda untuk berbagi sebuah reward dari pengorbanan yang baru saja Anda lewati. Semua perhatian dunia harus berpusat ke mereka semua.

  1. Super Komentator

agent 47

Sebagai seorang gamer, kita butuh konsentrasi lebih untuk menikmati petualangan apapun yang tengah kita tempuh di depan layar. Sebagian dari kita tentu mengerti bahwa ada banyak game di luar sana yang memang jauh bisa lebih dinikmati jika dicicipi sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Masalahnya, tidak semua teman Anda mengerti hal tersebut. Hasilnya? Ketika Anda butuh ekstra ketenangan tersebut, mereka justru berperan jadi seorang super komentator yang terus mengomentari semua langkah Anda di game, terlepas dari apakah mereka mengerti game seperti apa yang tengah Anda mainkan dan mekanik seperti apa yang ia usung. Tidak punya kontribusi yang signifikan. “Kok itu pagar enggak diloncatin, bro?”, “Patungnya mesti ditembak biar pintunya kebuka kalik?”, “Lu panggil monster yang sebelum battle itu aja, tadi kan ngeluarin angka gede?”, “Tadi gua lihat kayak ada pintu yang lu lewatin deh.”, “Ini kok karakternya jelek banget ya bentuknya…”. JUST. SHUT. THE. F. UP. DUDE..

  1. Full Bacot!

younoob

Ini mungkin bisa dibilang sebagai evolusi gamer “anti-kalah” yang sempat kita bahas di nomor sebelumnya. Namun berbeda dengan gamer tipe “1001 alasan” yang terus mengeluarkan justifikasi untuk sebuah tanding ulang, teman “Full Bacot” adalah tipe teman yang berusaha tampil keren hanya dari kata-kata, namun tak pernah dari sisi aksi. Tipe-tipe teman yang akan langsung menarik diri dan mengeluarkan lebih banyak alasan untuk memastikan mereka tidak perlu membuktikan apapun yang sudah sempat mereka ucapkan sebelumnya, terlepas dari fakta bahwa kita tahu itu adalah omong kosong belaka.

A: “Ini Boss kok susah banget yak?”
B: “Halah, gampang kalik. Gua 3 menit juga kelar kok lawan dia.”
A: “Gimana caranya?”
B: “Eh, gua ada kelas nih. Gua mesti cabut dulu..”

Tipe-tipe “gamer” yang sekalinya berhasil Anda jebak untuk membuktikan kata-kata mereka, berakhir memble dan memalukan.

  1. Penghancur Stick

destroy

Jangan pernah menghancurkan barang milik orang lain, di sebuah keluarga yang sehat, nasehat semacam ini tampaknya sudah jadi nilai yang kita pegang sejak kita kecil. Kita diajarkan untuk mengemban kewaspadaan ekstra ketika menangani barang milik orang lain yang otomatis jadi tanggung jawab kita, terlepas dari kurun waktu yang ada. Namun, Anda akan bertemu dengan tipe teman yang tampaknya tidak pernah mendapatkan pelajaran norma seperti ini, apalagi ketika bermain game. Kita semua mengerti bahwa terlibat dalam sebuah game kompetitif seringkali membuat adrenalin Anda berpacu kencang dan otak Anda seperti berhenti berpikir untuk beberapa saat. Namun ia tidak lantas jadi justifikasi bagi mereka untuk menekan beragam tombol di joystick Anda sekuat mungkin, memutar analog dengan sudut dan kecepatan ekstrim, atau bahkan sekedar menyentuhnya setelah makan makanan berminyak dan berbumbu warna tanpa membersihkan tangan mereka terlebih dahulu. Teman-teman yang tampaknya tidak pernah memahami seberapa penting dan berharganya joystick yang sudah Anda beli dengan susah payah ini.

 

 

  1. Rage Quitter!

fuu

Ada gamer yang tidak bisa menerima fakta bahwa kalah adalah sebuah keharusan dalam sebuah game kompetitif, namun ada pula yang bahkan dengan segala cara, menghindari rasa kekalahan yang sebenarnya bisa mendewasakan pribadi tersebut. Maka Anda bertemu dengan evolusi gamer yang bahkan jauh lebih menyebalkan dan menjengkelkan – mereka yang disebut sebagai ras “Rage Quitter”. Gamer-gamer yang merasa bahwa konsep kekalahan akan mencederai harga diri mereka. Namun alih-alih memastikan diri lebih ahli untuk berkompetisi dengan Anda, mereka bertindak seperti anak kecil dan berusaha mungkin tidak mendapatkan dan menerima kekalahan tersebut. Sebagai solusinya? Mereka berhenti bermain di tengah jalan dan tak ingin melanjutkan lagi pertandingan apapun yang tengah Anda nikmati. Sebuah opsi yang egois tentu saja, karena ketidakmauannya untuk merasakan kekalahan otomatis merenggut kepuasan yang seharusnya Anda dapatkan dari kemenangan. Alasan klasiknya? “Ah, lu udah pasti menang lah..”, “Lu pasti curang, kagak mau main gua..”, “Next game, yang ini gua udah gak bisa ngejar lagi.. ngaku kalah gua..”. Let me taste your tears, damn it!

  1. Spoiler-Man

spoiler man

Beberapa gamer tentu tidak berkeberatan dengan jenis teman seperti ini, namun bagi kami pribadi, tidak ada teman yang lebih menyebalkan dan pantas untuk dihindari dengan segala cara selain sang “Spoiler-Man”. Bagi Anda yang belum mengerti apa itu “Spoiler”, ia bisa didefinisikan sebagai bocoran garis cerita atau kejutan apapun yang hendak Anda nikmati di sebuah media hiburan, termasuk video game, dari orang lain. Spoiler-Man adalah orang-orang yang tidak menghargai ketertarikan, hype, sudah seberapa lama Anda mengantisipasi sebuah produk, dan seberapa besar perjuangan Anda untuk menabung dan berjuang untuk membeli game tersebut dengan mimpi untuk mendapatkan pengalaman gaming penuh apapun yang hendak ditawarkan oleh sang developer. Hanya karena mereka bisa menikmatinya lebih cepat, mereka merasa punya hak untuk menghapus semua elemen keterkejutan dan rasa penasaran apapun yang seharusnya menyempurnakan pengalaman gaming yang Anda dapatkan. Tidak ada yang lebih buruk daripada jenis “teman” seperti ini sebagai seorang gamer.

A: “AKHIRNYA! Setelah gua nunggu 2 tahun, nabung 6 bulan gua akhirnya bisa beli Final Fantasy VII”
B: “Selamat, btw jangan pakai Aeris. Entar dia mati di tengah game.”
A: “……………………..”

Di atas adalah 10 jenis teman yang menurut kami – JagatPlay, merupakan golongan paling menyebalkan yang bisa ditemukan oleh seorang gamer, terlepas apakah mereka berbagi ketertarikan yang sama atau tidak. Tipe-tipe gamer yang sebenarnya bisa menyenangkan dan diandalkan untuk ekstra kegilaan di aktivitas bersenang-senang yang lain, namun berakhir mimpi buruk ketika ia terlibat dalam aktivitas gaming apapun. Ingat, artikel ini ditulis tidak hanya untuk membuat Anda teringat dan mulai membayangkan wajah-wajah teman yang mungkin akan mengingatkan Anda pada salah satu sifat di atas, tetapi juga menjadi cermin apakah jangan-jangan, Anda justru berperan sebagai satu dari semua list ini kepada teman gamer Anda yang lain.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Tipe teman seperti apa yang paling menyebalkan yang pernah Anda temui selama menjadi seorang gamer? Feel free to comment and expand the list!

 

 

sumber : jagatplay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here